Selasa, 25 Februari 2014

Tuhan, Tenangkan Hatiku.

Pagi ini aku terbangun, menghela nafas dan hatiku berbicara 'Tuhan, aku mensyukuri apapun yang Engkau beri saat ini. Entah itu rasa senang maupun sebuah masalah yang harus aku hadapi'. Ini adalah hari ketiga setelah pertengkaran itu, akankah ada perubahan? akankah kami akan saling mengerti kembali seperti waktu dulu? Entahlah...

Aku ingin sekali bercerita, menangis bahkan berteriak, tapi aku tak tahu harus bercerita kepada siapa, menangis di pelukan siapa, ataupun berteriak dimana. Hanya kamar yang tak terlalu rapi ini yang menjadi pelabuhan terakhirku, disinilah aku menangis, disinilah aku bercerita kepada diriku sendiri dan disinilah aku berteriak sekalipun hanya hatiku yang mampu berteriak dan disinilah aku merasa semakin sendiri. Merasa asing dirumah sendiri adalah hal yang paling menyebalkan.

Dua hari yang lalu, satu masalah kecil yang selalu saja ditimbulkan oleh si pintar membuat semuanya kacau sampai sekarang. Semua membelanya, semua menyalahkanku, dan semua tak memperdulikanku ada ataupun tidak. Sakit? yah sakit sekali hati ini, di dalam rasa sakit ini tumbuh sebuah kebencian yang benr-benar aku rasakan saat ini. Apa aku benci mereka semua? tidak, aku benci sikap mereka! dan aku juga benci saat ini aku menjadi lemah.

Aku tahu dia lahir dengan segala kemampuan yang dia punya, aku tahu dia pintar, dia berprestasi dia lah segalanya yang dibanggakan mama dan ayah. Aku bukanlah anak yang pintar lagi semenjak dia ada, benar-benar aku masih mengingatnya. Sebelum ada dia, aku cukup pintar, berprestasi di sekolah dan aku hidup bahagia dengan mereka tapi semua berubah saat dia terlahir ke dunia ini. Prestasiku menurun, aku tak lagi dekat dengan mereka terutama mamaku. Hari demi hari kami semakin besar, dia semakin berprestasi hampir di segala bidang dan aku semakin tahu bagaimana rasanya sakit hati melihat mama selalu membanggakannya ke setiap orang, seakan-akan dia hanya punya anak satu-satunya.

Aku tumbuh semakin dewasa, aku tak terlalu memperdulikan masalah itu lagi karena aku berfikir aku bisa lebih merasa bahagia dengan hidupku bersama teman-temanku. Tapi saat ini sakit hati itu muncul kembali dengan sebuah rasa benci, aku sadar dia saudaraku, aku sadar mereka adalah orang tuaku dan aku sadar aku masih benar-benar membutuhkan mereka. Tapi pada kenyataannya hati ini semakin sakit, aku bingung harus bagaimana. Padahal aku cuma menginginkan mereka berlaku adil antara aku dan dia, aku punya perasaan, apa mereka tidak berfikir hal itu?

Kali ini kalian benar-benar keterlalulan, apa kalian merasa saat ini anak kalian hanya dia?! lalu aku siapa?! Aku rasa kalian benar-benar mengenal semua tentang anak kebanggaan itu tapi kalian tak pernah mengenali siapa aku. Aku yang selalu terlihat bahagia diluar padahal aku selalu menangis di dalam hati. Apa kalian merasa dengan aku diam dikamar menyendiri itu bukan hal yang penting untuk mencari tahu aku kenapa?! Dengan aku memutar music dikamar kalian pasti tak akan tahu dan kalian pasti juga tidak akan berfikir bahwa sebenarnya aku menangis, menangis sendiri. Dari kamar aku dengar dengan jelas kalian perhatikan anak itu, kalian tanya dia sudah makan atau belum, kalian temani dia belajar, Tuhan rasanya tangis ini tak bisa kuhentikan. Kalian belum sadar selama dua hari yang lalu aku tak pernah sekalipun makan dirumah, apa kalian peduli aku sudah makan atau belum? apa kalian pernah sekedar bertanya tugas-tugas kuliahku bagaimana? Tuhan, beri aku kekuatan menghadapi ini semua, aku tahu mereka punya rasa sayang yang besar kepadaku hanya saja saat ini mereka lupa akan hal itu. Jangan biarkan aku terlarut terlalu jauh dari rasa benci ini Tuhan, maafkan dan tenangkanlah hati ini...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar