Minggu, 05 Mei 2013

HellBoy


“hei Ben siapa itu? Saudara kamu?”
“iya sekarang dia jadi saudaraku, awalnya tadi mamaku menemukan dia sendirian di jembatan. Karna mamaku nggak tega, akhirnya dia suruh tinggal dirumah”
“siapa nama kamu?”, tanyaku ke anak laki-laki suadara Ben yang baru ini.
Anak ini kira-kira berusia 4 tahun, wajahnya manis tapi mungkin dia agak pemalu.
“dia daritadi jarang bicara, mungkin dia pemalu”, jelas Ben.
“oohh”, gumamku.

“hai Ben, hai Re.. ih ini adekknya siapa lucu banget”, sapa Nasti ke kami bertiga.
“ini Nas adek barunya Ben, lucu ya. Sayang dia masih malu-malu”
“iya lucu banget, boleh ya cubit pipinya”, Nasti mencoba mencubit pipi anak kecil ini. Tapi tiba-tiba tangan anak kecil ini menampik tangan Nasti, seraya menatap Nasti dengan tatapan yang aneh.
“auuw!”, pekik Nasti kesakitan saat melihat tangannya memerah.
“Boy! Kamu nggak boleh kayak gitu. Itu nggak sopan”, Ben mencoba menasihati Boy, yah itulah nama yang diberikan keluarga Ben untuk dia.

“tangan kamu nggak papah?”
“enggak kok Re, ini cuma merah agak sakit dikit sih”
“kalau gitu masuk dulu kerumahku yuk, biar aku kompres”
“Nasti, Rere.. maafin Boy ya. Aku mau pulangin dia kerumah dulu”

Aku mencoba mengingat kembali tatapan Boy saat menampik tangan Nasti, rasanya tatapan itu benar-benar aneh untuk anak seumuran dia. Lagipula kalau hanya sekedar menampik tangan Nasti harusnya tangan Nasti nggak meninggalkan sakit ataupun luka, secara dia hanya anak berumur empat tahun. Perasaanku mulai berkata ada yang tidak beres dengan anak itu, sewaktu meninggalkan halaman rumahku anak itu menoleh kearahku dengan tatapan yang aneh itu.
Mungkin semacam tatapan orang yang menyimpan dendam…
***
Sudah tiga hari ini Boy tinggal bersama keluarga Ben, tapi menurut Ben memang ada yang janggal pada anak kecil itu. Ben menyadarinya kemarin malam saat dia dan keluarganya makan malam.

“kemarin waktu makan malam, nggak tahu kenapa aku merasa takut liat cara si Boy dengan garpunya. Dia selama tinggal dirumah nggak pernah bicara satu katapun dan waktu makan malam itu aku lihat tatapannya itu bener-bener dingin, aku coba senyum ke dia tapi dia nggak ngerespon”, cerita Ben panjang lebar. Mendengar cerita Ben yang mulai sadar ada yang aneh dengan  Boy, akumulai berani angkat bicara.

“sebenernya aku udah liat tatapan dia yang aneh itu waktu pertama kali aku ketemu dia. Inget kan waktu itu dia menampik tangan Nasti? Waktu itu juga dia liatin Nasti dengan tatapan itu. Dan waktu kamu mau pamit pulang, si Boy sempat noleh kebelakang liat aku dengan tatapan itu juga. Tatapannya itu kayak orang yang dendam Ben, tapi aneh..”, belum sempat aku selesai bicara Nasti memotongnya.

“aneh kalau misalkan tatapan dendam kayak gitu dimiliki sama anak yang baru berusia empat tahun. Belum lagi dia waktu menampik tanganku itu rasanya bener-bener sakit dan sampai membekas warna merah kan. Aku sih punya ponakan seumuran Boy, dia kalau mukul sih biasa-biasa aja Ben”

“ah tapi mungkin ini cuma karna dia masih beradaptasi aja kali ya. Ntar kalau udah kebiasaan dia mungkin nggak sedingin ini”, ujar Ben.
***
Pagi itu di depan rumah Ben banyak orang berkerumun dan terlihat adanya garis polisi didepan rumahnya. Hal yang benar-benar mengejutkan, kedua orang tua Ben meninggal karna bunuh diri dan yang lebih tragis lagi Ben berubah menjadi orang yang benar-benar stress. Dia terpukul dengan kejadian ini, tapi anehnya dia tidak mau berada dekat dengan Boy. Seakan-akan Ben benar-benar benci saat melihat Boy, karna kedua orang tua Nasti ingin mempunyai anak laki-laki, maka mereka mengadopsi Boy. Sebenarnya Nasty agak kurang setuju, tapi pikirannya berubah saat melihat mata Boy yang sekarang benar-benar seperti anak kecil yang sedih dan takut ditinggal sendiri. Saat Ben akan dibawa kerumah sakit jiwa untuk dipulihkan kembali kejiwaannya, dia selalu berteriak-teriak histeris “dia anak iblis! Dia bukan manusia! Dia akan membunuh orang tua yang penuh kasih sayang, dia iblis!”
***
Sehari setelah kejadian itu, Nasti menceritakan tingkah laku Boy yang aneh.
“kemarin malam aku lihat dia ke dapur mengambil pisau dan berjalan menuju ibuku, aku benar-benar merasa suasana saat itu mencekam karna aku lihat tatapan penuh dendam itu dimatanya. Untung saja ibuku langsung menoleh kebelakang dan mengambil pisau itu. Waktu Boy ditanya untuk apa dia mengambil pisau itu, dia tetap diam seperti biasanya”, Nasti bercerita dengan rasa takut.

“hmm.. mungkin ini memang hanya perasaan kita saja Nas. Dia kan cuma anak kecil, nggak mungkin dia berbuat criminal mau membunuh ibu kamu”, aku mencoba menenangkan Nasti.
“tapi apa kamu ingat perkataan Ben?! Dia bilang Boy itu bukan manusia, dia anak iblis”
“Nasti, sudahlah. Kita tahu orang tua Ben bunuh diri, jadi bukan karna Boy. Nanti sore kamu mau ke puncak sekeluarga kan? Kamu tenangin diri kamu disana”
“aku nggak mungkin bisa tenang kalau anak kecil aneh itu ikut”

***
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, waktu semua kelurgaku hendak pergi untuk tidur, tiba-tiba telfon rumah bordering.

“Rere, keluarganya Nasti kecelakaan waktu perjalanan mau kepuncak dan semuanya nggak bisa diselamatkan. Tadi polisi telfon kerumah kita karna dia lihat panggilan terakhir di handphone Nasti nomer rumah kita”, kata mamaku usai menerima telfon dari polisi.
“apa?! Tapi kan ma..”
“mama mau kerumah sakit sama ayah, kamu dirumah aja istirahat. Besok sepulang sekolah kamu baru kerumah sakit”

Aku heran dengan pernyataan polisi tadi, Nasty sama sekali tidak pernah menelfonku di telfon rumah. Lalu bagaimana bisa di handphone Nasty ada panggilan keluar ke nomer rumahku. Masih sibuknya aku berpikir kejadian aneh ini, tiba-tiba terdengar bel rumahku berbunyi. Seketika jantungku berdegup kencang, rasa takut mulai menghantuiku. Siapa malam-malam begini datang bertamu, sementara tidak mungkin kalau mama iseng keluar meninggalkan rumah dengan memencet bel sebelumnya. Aku beranikan diriku untuk perlahan-lahan mencoba membuka pintu depan.

Ingin rasanya aku berteriak tapi tenggorokan ku benar-benar mongering, aku menatap sosok kecil didepan pintu itu dengan bercucuran keringat. Aku memberanikan diri untuk lari menuju kamar orang tuaku yang letaknya tak jauh dari pintu depan. Aku kunci kamar itu dan aku mencoba berlindung dibalik selimut tebal seraya mencoba menenangkan diri.

Bagaimana bisa Boy yang ikut perjalanan ke puncak bersama keluarga Nasti bisa selamat dan detik ini dia ada didepan pintu rumahku, benar-benar mustahil. Rasa takut benar-benar menguasaiku, aku lihat foto kedua orang tuaku yang tergantung rapi di dinding tiba-tiba bergerak-gerak dan jatuh. Seketika aku ingat perkataan Ben “dia anak iblis! Dia bukan manusia! Dia akan membunuh orang tua yang penuh kasih sayang, dia iblis!”

Jantungku berdegup kencang dan air mataku jatuh karna rasa takut akan terjadi apa-apa dengan kedua orang tuaku. Aku berharap saat ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Aku benar-benar berharap kejadian yang dialami kedua sahabatku Ben dan Nasti hanyalah bagian dari mimpi ini. Aku  mencoba membenamkan kepalaku dalam selimut dan aku mencoba berteriak sekencang-kencangnya “ini semua mimpi! Hanya mimpi! Kau! Entah siapa, hanyalah sebuah mimpi!”.

Aku terus berteriak dan menangis, sampai akhirnya aku sadar sinar matahari menyambutku. Aku terbangun dengan kepala yang teramat pusing dan aku tersadar aku tidak lagi dikamar kedua orang tuaku. Pagi telah datang, aku mencoba mencari kedua orang tuaku dengan cemas. Aku menoleh ke kamar kedua orang tuaku dan foto mereka masih tertata rapi di dinding.

Aku menuju keruang makan dan mereka berdua ada disana menikmati the hangat, langsung kupeluk mereka berdua dan mengucap syukur kepada Tuhan. Sungguh mimpi yang buruk dan panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar